Sebut saja si Brengsek--A. Dan si Usil--C. Mereka adalah dua bersaudara yang sangat kompak. Suatu hari, mereka bertengkar karena perkara kecil.
"Bagaimana kita usili B?" tanya C suatu hari.
"Tidak!" jawab si A. "Lebih baik kita ambil keperawanannya."
"Brengsek! Usili saja. Kau seperti tidak punya otak saja," dengus C.
"Aaah. Kau sendiri usil!" umpat A.
"Usil lebih baik daripada kamu yang ngeres pikirannya itu! Macam pria tak punya malu." bentak C.
"Fufufu. Berkaca pada dirimu sendiri! Bukankah kita sama?" seringai A. C tercenung mendengar kata-kata A yang terus membalik perkataan C.
Pelajaran kita hari ini:
Kita musti bercermin pada diri kita sendiri. Untuk apa pikiran kita bersih, bila kata-kata kita kotor. Untuk apa kata-kata kita bersih, bila pikiran kita kotor. Jangan sembarangan mengatai orang, bila kitapun memiliki sikap yang sama. Jangan sembarangan mengejek orang, bila kitapun punya sifat yang sama. Mari, bersihkan diri dari segala hal maksiat. Bersihkan baju taqwa kita, dari noda dosa :)
Telaga Aksara,
Third post
Senin, 07 Maret 2016
Minggu, 06 Maret 2016
Catatan Perjalanan Menuju Impian 2: Para Pelukis Pelangi
Bibir-bibir mungil mereka mengatakan, "Kelak, aku akan jadi orang sukses!"
Walau tahu tak akan jadi nyata, mereka berusaha semampu mereka. Bekerja kerasa menggapai masa depan. Tangan-tangan mungil mereka tak berhenti menari-nari. Meliuk-liuk seiring nada bertempo.
Apakah kita seperti para pelukis pelangi itu? Kenapa kita tidak mampu berceloteh yakin kitalah yang akan maju? Dari mana kekuatan itu berasal?
Satu jawabannya, hati. Mereka menggunakan hati.
Para pelukis pelangi asyik berdendang ria. Tanpa sadar mereka itu susah batin susah raga. Merekalah yang akan membimbing kita pada dunia yang penuh kemilau.
Para Pelukis Pelangi ... biarlah. Biarlah mereka bermimpi. Dan mimpi kitapun ada padanya, Para Pelukis Pelangi, yakni, anak-anak bangsa yang tulus mencintai negeri kita sejati.
Telaga Aksara,
-6 Maret 2016
Walau tahu tak akan jadi nyata, mereka berusaha semampu mereka. Bekerja kerasa menggapai masa depan. Tangan-tangan mungil mereka tak berhenti menari-nari. Meliuk-liuk seiring nada bertempo.
Apakah kita seperti para pelukis pelangi itu? Kenapa kita tidak mampu berceloteh yakin kitalah yang akan maju? Dari mana kekuatan itu berasal?
Satu jawabannya, hati. Mereka menggunakan hati.
Para pelukis pelangi asyik berdendang ria. Tanpa sadar mereka itu susah batin susah raga. Merekalah yang akan membimbing kita pada dunia yang penuh kemilau.
Para Pelukis Pelangi ... biarlah. Biarlah mereka bermimpi. Dan mimpi kitapun ada padanya, Para Pelukis Pelangi, yakni, anak-anak bangsa yang tulus mencintai negeri kita sejati.
Telaga Aksara,
-6 Maret 2016
Catatan 1: Perjalanan Menuju Impian
Aku seorang pemimpi. Yang selalu menginginkan perdamaian. Aku seorang pemimpi. Yang selalu memiliki daya penasaran yang kuat.
Ada apa gerangan? Penulis impianku. Jangan halangiku, ini pilihanku. Aku selalu membuat kesalahan, karenanya, aku ingin meralat kesalahan tersebut.
Bukan hanya sebagai penulis dengan arti sempit, tapi juga dalam arti luas. Seorang penulis bukan hanya yang menulis buku, melainkan menulis dokumen, jurnal, dan lain-lain.
Telaga Aksara,
6 Maret 2016.
First post
Ada apa gerangan? Penulis impianku. Jangan halangiku, ini pilihanku. Aku selalu membuat kesalahan, karenanya, aku ingin meralat kesalahan tersebut.
Bukan hanya sebagai penulis dengan arti sempit, tapi juga dalam arti luas. Seorang penulis bukan hanya yang menulis buku, melainkan menulis dokumen, jurnal, dan lain-lain.
Telaga Aksara,
6 Maret 2016.
First post
Langganan:
Komentar (Atom)